Akhir-akhir ini aku banyak main di twitter. Arus informasinya cepat, dan karena ada batasan jumlah huruf dalam satu posting, kita bisa milih mana yang mau kita baca sekilas atau yang mau kita perdalam (biasanya, sih, orang-orang di Twitter nyebutnya thread atau utas).
Seperti biasa, kalo orang banyak ngumpul di satu area, keliatan sikap mereka yang beda-beda. Cara-cara mereka beropini juga jadinya beda-beda. Wajar, ya, yang namanya manusia itu unik.
Di antara warga-warga Twitterland (banyak yang iseng nyebutnya begini 🤣) banyak yang vokal dan peduli dengan nasib sesama, jadi mereka selalu bereaksi terhadap masalah sosial dengan cara beropini lewat Twitter.

Masalahnya, opini ini suka dilakukan dengan sesat contohnya ad hominem (menyerang orang yang berpendapat, bukan diskusi soal idenya, ini yang paling sering kutemuin) dkk dan cara berkomunikasi yang gak tepat sasaran.
Dan yang paling sering kutemui adalah orang-orang yang maksain pendapat dan membantah pendapat orang lain, tapi dengan cara menghina (kadang ad hominem, kadang bisa juga diserang idenya, tapi, berhenti sampe tahap ngata-ngatain doang).
Ini yang kerap menimbulkan cekcok di medsos. Apalagi, karena identitas tersembunyi, orang-orang makin berani ngomong, bahkan tanpa filter.
Nah, sebagai orang tua, tentunya kita gak mau anak kita jadi begini. Atau, minimal, kita gak mau anak kita dijerat pasal UU ITE yang ngaret banget itu, lalu kemudian dicap kriminil.
Di zaman sekarang, makin penting untuk mendidik perilaku asertif di diri individu.
Sebelumnya, bahas dulu soal definisi perilaku asertif. Aku nyari di KBBI gak ada, jadi akhirnya aku nyari di sebuah jurnal UIN di internet.
Menurut Jakubowski (dalam Zulkaida 2005), perilaku asertif adalah usaha untuk mengemukakan pikiran, perasaan dan pendapat secara langsung, jujur dan dengan cara yang sesuai, yaitu tidak menyakiti dan merugikan diri sendiri maupun
orang lain.Lange dan Jakubowski (dalam Zulkaida, 2005) mengemukakan konsep yang disebut sebagai Responsible Assertive Behavior (perilaku asertif yang bertanggung jawab), yaitu bahwa perilaku asertif seharusnya dilakukan secara bertanggung jawab.
Sumbernya dari sini, ya : Jurnal tentang Perilaku Asertif.
Dari definisi di atas, kita dapet beberapa kata kunci : jujur, sesuai, tidak menyakiti, bertanggung jawab.
Kita bahas satu per satu aja, ya.
1. Jujur
Gimana cara ngajarin anak jujur? Kita perlu tau kalo bohong itu dilakukan semua orang, bahkan yang dewasa.
Kenapa orang berbohong? Biasanya karena mereka ngeliat kondisi yang mereka hadapi sebagai situasi yang gak aman, akhirnya menyelamatkan diri dengan cara bohong.
Dulu, sempet ada fase Tombo suka bohong. Pas aku introspeksi diri lagi, aku emang gampang emosi kalo ada kejadian yang gak sesuai dengan yang aku mau.
Akhirnya, aku ubah sikap. Aku berterima kasih kalo dia jujur, aku fokus sama konsekuensi dia kalo bohong (tapi gak nyebut-nyebut kalo dia salah atau bahas soal bohongnya). Syukurnya, sekarang ini dia udah mulai berani jujur.
Karena situasi di rumah aman, gak penuh dengan emosi yang meledak-ledak yang bisa menyakiti dia.
2. Sesuai
Sesuai ini seharusnya gampang, ya. Aturan yang berlaku gimana soal berpendapat, baik itu norma sosial, norma kesopanan, hukum, agama, dkk.
Cara biar anak bisa menyesuaikan diri dengan aturan, ya, biasakan ajak mereka untuk paham aturannya, ajak diskusi buat bikin aturan, dan kita mesti kasih tahu fungsi aturan itu gimana.
Aturan itu biasanya dibuat untuk ketertiban, dan kelanjutannya, untuk keamanan bersama. Idealnya, niiih.
Jadi, kemauan anak nurutin norma/aturan ada hubungannya sama poin selanjutnya.
3. Tidak menyakiti
Nah, ini hubungannya dengan rasa peduli anak ke sesamanya. Gimana cara ngebangun kepedulian? Pertama, jangan pernah nyuruh-nyuruh anak untuk peduli (pada praktiknya, ngasi ini-itu ke orang lain). Itu malah bikin energi anak habis. Kalo energi habis, gak bisa dia ngasih empati ke orang lain.
Kedua, caranya itu teladani. Tunjukin sikap itu ke anak. Bukan cuma sikap kita ke orang lain, tapi sikap kita ke anak juga.
Ketiga, ajarin anak buat paham kalo orang lain juga punya kebutuhan dan kepentingan sendiri, bukan cuma dia yang punya mau. Ini diajarkan dengan cara berdagang. Ilmu yang juga aku contek dari Psikolog Toge Aprilianto. 😌
Kalo udah fasih berdagang, lama-lama anak paham kalo orang lain juga butuh sesuatu, jadi bisa kerja sama dengan cara dia bantu ortunya.
Dan kalo dia peduli, seharusnya dia bisa lebih manut sama aturan. Bagusnya lagi, dia bukan konformis, artinya dia bakal liat kepentingan orang lain, jadi penerapan aturannya jadi dinamis.
4. Bertanggung jawab
Tanggung jawab ini paling gak enak. Bikin energi abis 🤣
Logika kita harus jalan dan harus hati-hati biar gak sesat logika,omongan kita bisa dipertanggungjawabkan.
Untuk ngajarin logika, sebenernya cukup simpel. Kasih ruang anak untuk eksplorasi sendiri, jangan banyak intervensi kalo anak lagi main, janga bbanyak ngelarang. Trus, bikin anak nyaman buat nanya-nanya ke kita dan diskusi sama kita.
Kalo ini dilakuin, aku jamin logika anak terasah dengan sendirinya. Gak usah kita yang pusing-pusing ngasahnya.
Satunya lagi, kalo mau anak belajar tanggung jawab atas perilakunya, balik lagi soal aturan. Anak sebisa mungkin dilibatin dalam diskusi soal aturan. Udah gitu, semua aturan harus jelas, dari pelaksanaannya sampe ke konsekuensi.
Selanjutnya, ortu yang penting konsisten dalam penerapannya. Tapi, konsisten bukan berarti kaku. Selalu ada ruang buat disesuaikan dengan kondisi yang lagi dihadepin. Namanya juga berkaitan sama manusia yang dinamis, di sekitarnya juga harus dinamis.
Nah, dengan perilaku asertif, bisa, lho, kita menghindari jerat UU ITE, hehe…
Share opini buibu di kolom komentar, ya. Tapi, yang asertif… Hehe…
